(Foto: Illustrasi budiaya ikan nila di Kabupaten Kukar/doc)
SAMARINDA.JURNALETAM – Di tengah meningkatnya tuntutan konsumen terhadap produk perikanan yang aman dan berkualitas, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) berkomitmen memperkuat standar produksi pembudidaya ikan nila di Kecamatan Loa Kulu melalui penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).
Langkah strategis ini menjadi tonggak penting bagi Loa Kulu, sentra utama penghasil ikan nila di Kaltim dengan kapasitas produksi lebih dari 10 ribu ton per tahun.
Kepala DKP Kaltim, Irhan Hukmaidy, mengungkapkan penerapan CBIB merupakan syarat mutlak agar produk perikanan Kaltim mampu bersaing di pasar modern yang kini semakin selektif.
“CBIB menjadi fondasi utama agar hasil panen memenuhi standar mutu, aman dikonsumsi, dan dapat menembus pasar yang lebih luas, termasuk industri pengolahan,” Ungkapnya. Jum'at (5/12/2025).
Lebih lanjut, Irhan menjelaskan, penerapan standar mutu tidak hanya berdampak pada peningkatan nilai jual ikan, tetapi juga membantu menjaga kualitas lingkungan budidaya.
Melalui praktik CBIB, pembudidaya dibimbing untuk menerapkan manajemen pakan yang tepat, pemeliharaan kualitas air, sanitasi keramba, serta teknik panen yang higienis.
“CBIB bukan sekadar standar, tetapi solusi praktis untuk menjaga kesehatan ikan dan mencegah kerugian, terutama saat terjadi fluktuasi kualitas air,” Jelas Irhan.
Untuk memperkuat implementasi CBIB, Irham menyebutkan pihaknya turut memperkenalkan teknologi pendukung, seperti alat pemantau kualitas air real-time, aerator hemat energi, serta sistem manajemen pakan yang lebih efisien.
Teknologi tersebut diharapkan membantu ribuan pembudidaya di Loa Kulu menjadi lebih adaptif dalam menghadapi perubahan lingkungan yang ekstrem.
“Teknologi ini melengkapi penerapan CBIB agar proses budidaya lebih profesional dan ilmiah,” Ucap Irhan.
Dengan menggabungkan standar mutu dan teknologi, Irhan optimis kualitas panen nila dari Loa Kulu akan meningkat signifikan, sehingga memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan 1.057 rumah tangga pembudidaya di wilayah tersebut.
“Kita ingin pembudidaya menikmati nilai ekonomi yang lebih baik. Jika kualitasnya terjaga, produknya pasti dicari,” Pungkasnya. (RI/ADV/DISKOMINFO)


No comments:
Post a Comment