DKP Kaltim Perkuat Kolaborasi Atasi Kenaikan Biaya Pakan dan Risiko Lingkungan di Loa Kulu

 

(Foto: Kepala DKP Kaltim, Irhan Hukamidy/doc)

SAMARINDA.JURNALETAM – Kekhawatiran meningkatnya biaya produksi dan risiko lingkungan yang mengancam keberlanjutan sektor perikanan budidaya air tawar di Kalimantan Timur (Kaltim) kini dijawab melalui penguatan kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

 

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim menekankan bahwa sinergi ini dipusatkan di Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara, salah satu lumbung utama ikan nila dan wilayah yang telah ditetapkan sebagai Kampung Perikanan Budidaya oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

 

Dalam kesempatan itu, Kepala DKP Kaltim, Irhan Hukmaidy, mengungkapkan penanganan berbagai persoalan teknis di Loa Kulu menjadi prioritas utama untuk menjaga stabilitas pasokan ikan air tawar sekaligus menopang perekonomian ribuan pembudidaya.

 

Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah tingginya fluktuasi harga pakan yang membebani 1.057 rumah tangga pembudidaya.

 

“Kami menghadapi tantangan utama berupa kenaikan harga pakan yang menambah beban produksi. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, swasta, dan kelompok masyarakat untuk mengatasinya,” Ungkap Irhan. Jumat (5/12/2025).

 

Lebih lanjut, Irhan menjelaskan pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya ikan nila. Ketika harganya naik, margin keuntungan pembudidaya langsung tertekan, sementara harga jual ikan tidak selalu dapat mengikuti kenaikan tersebut.

 

Untuk menjawab kondisi ini, pemerintah daerah mendorong kemitraan strategis dengan sektor swasta guna memperbaiki rantai distribusi pakan serta mengembangkan alternatif pakan lokal.

 

“Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pakan komersial yang mahal,” Jelas Irhan.

 

Selain tekanan ekonomi, Irhan menyebutkan faktor lingkungan juga menjadi ancaman besar. Perubahan drastis kualitas air akibat kemarau panjang maupun banjir berpotensi menurunkan produktivitas hingga menyebabkan kematian ikan secara massal.

 

Untuk meminimalkan risiko tersebut, DKP Kaltim mulai memperkenalkan teknologi tepat guna seperti sistem monitoring kualitas air real-time, aerator hemat energi, serta manajemen pakan dan keramba yang adaptif terhadap cuaca ekstrem.

 

“Kita terus mendorong pembudidaya memanfaatkan teknologi demi menjaga kualitas air dan mengurangi potensi kerugian,” Tegas Irhan.

 

Dengan pendekatan terpadu dan menggabungkan teknologi, pengembangan pakan lokal, serta penguatan kemitraan—DKP Kaltim optimistis sektor budidaya nila di Loa Kulu akan semakin tangguh. Irhan menambahkan kolaborasi erat antara pemerintah pusat, daerah, swasta, dan para pembudidaya merupakan kunci keberlanjutan.

 

“Kami yakin produksi nila di kawasan ini dapat terus terjaga sekaligus memperkuat ketahanan pangan Kaltim sebagai penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN),” pungkasnya. (RI/ADV/DISKOMINFO)

HK
HK

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

No comments:

Post a Comment