(Foto: Puskesmas di Provinsi Kaltim/doc)
SAMARINDA.JURNALETAM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) terus memperluas akses layanan pengobatan Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan AIDS demi memastikan setiap warga mendapatkan bantuan kesehatan yang setara.
Melalui 272 fasilitas kesehatan yang tersebar di seluruh kabupaten/kota, masyarakat kini dapat memperoleh layanan konsultasi hingga terapi antiretroviral (ARV) secara gratis sebagai bagian dari program Jospol bidang kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, dr. Jaya Mualimin, menyampaikan jaringan layanan yang tersedia tidak hanya mengandalkan puskesmas, tetapi juga klinik swasta, praktik dokter mandiri, dan rumah sakit rujukan yang seluruhnya terkoneksi dalam sistem pelayanan terpadu.
“Dengan jaringan layanan yang tersebar luas ini, pasien dapat mengakses konsultasi dan pengobatan antiretroviral (ARV) secara gratis. Pendekatan terintegrasi tidak hanya menekan angka penularan, tetapi juga memastikan pasien dapat hidup produktif, sehat, dan aman,” Ungkapnya. Kamis (4/12/2025).
Diketahui, Sepanjang tahun 2025, tercatat 1.018 kasus HIV, 223 kasus AIDS, dan 112 kematian terkait penyakit tersebut di Kaltim. Pemerintah menekankan pentingnya kepatuhan pasien dalam mengonsumsi ARV secara rutin karena terapi yang konsisten terbukti mampu menekan jumlah virus hingga batas aman.
Dengan kondisi yang lebih stabil, Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) dapat menjalani kehidupan normal sekaligus meminimalkan risiko penularan kepada orang lain.
Selain layanan medis, Jaya menyebutkan pemerintah juga menggencarkan edukasi publik untuk mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Masyarakat diimbau memahami bahwa HIV tidak menular melalui aktivitas sosial sehari-hari, seperti berjabat tangan atau berbagi makanan.
“Kami mendorong seluruh pihak, termasuk keluarga, lingkungan pendidikan, dan masyarakat, untuk memberikan dukungan moral agar pasien merasa aman dalam mengakses layanan kesehatan,” Tegas Jaya.
Penanganan khusus juga diberikan kepada ibu hamil dengan HIV untuk mencegah penularan ke bayi melalui pemantauan intensif dan pemberian ARV teratur.
Untuk itu, Jaya memastikan program Jospol bidang kesehatan terus berkembang melalui peningkatan kompetensi tenaga medis, distribusi obat yang merata, serta evaluasi berkala untuk mendeteksi kasus baru sedini mungkin.
"Program ini membuka peluang bagi pasien HIV/AIDS untuk hidup normal dan sehat. Semua fasilitas kesehatan harus dimanfaatkan maksimal sehingga setiap pasien mendapatkan pengobatan tepat waktu dan masyarakat semakin memahami pentingnya dukungan tanpa stigma,” tutupnya. (AS/ADV/DISKOMINFO)


No comments:
Post a Comment